Dayang-dayang
merupakan tokoh sisipan dari seni pertunjukan Bali. Tokoh tersebut diposisikan
sebagai pelayan wanita yang mendampingi tokoh putri atau ratu dalam pertunjukan
kesenian. Karena mayoritas pertunjukan di Bali, mengambil setting kerajaan,
maka dari itu tokoh dayang-dayang diposisikan sebagai penerjemah Bahasa Kawi
yang dibicarakan oleh tokoh kerajaan, ke Bahasa kepara (Bahasa awam) untuk
penonton kebanyakan. Dalam pewayangan Bali tokoh dayang-dayang dekat dengan
tokoh condong.
Condong kalua ditinjau dari segi Bahasa, berasal dari Bahasa
Kawi/Jawa kuno yang berarti 'cenderung rebah', diinterpretasikan sebagai tokoh
yang diposisikan untuk menerjemahkan Bahasa Kawi (kelas tinggi/status sosial
tinggi) ke Bahasa Kepara (kelas rendah/status sosial rendah/orang kebanyakan).
Condong juga dapat berarti 'sendeh' 'cumpu', biasa juga diartikan 'kesetiaan'.
Condong adalah pelayan wanita yang sering juga disebut bibi inya di dalam
pementasan seni drama, diposisikan sebagai pelayan putri raja. Dalam dramatari
Arja condong menjadi pengiring (Galuh) putri raja, begitu pula dalam Wayang
Parwa (Mahabrata) Bali. Karakter condong adalah rajin, setia, cerdas, penurut,
disiplin, jujur (Winaya, 2012).

Komentar
Posting Komentar