Saudara paling tua atau yang Iahir terlebih dahulu
berwujud yeh nyom dalam Bahasa Indonesia disebut air ketuban, dalam
filsafat Kanda Pat dinamakan Sang Anggapati. Sang Anggapati dipercaya berwarna
putih sebagai simbol air ketuban, dan diposisikan di arah timur sebagai arah
terbitnya matahari, sebagai simbol permulaan kehidupan.
Sang Anggapati setelah
cukup umurnya diposisikan sebagai patih di Pura Ulun Suwi yaitu sebuah tempat
suci yang diposisikan sebagai pusat pembagian air pertanian (subak), berubah
namanya menjadi I Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Ratu Ngurah Tangkeb Langit ketika
hadir di dunia fana diikuti oleh energi kosmis yaitu Sang Bhuta Swadnya, Sang
Bhuta Swasti dan Sang Bhuta Tenggara. Ratu Ngurah Tangkeb Langit bertindak di
dunia fana sebagai dewanya sawah dan gunung.
Beliau bertugas sebagai pemelihara
dunia dan di pekarangan rumah. Beliau bersthana (bertempat) di tugu
(semacam tempat pemujaan) yg terletak di sisi barat laut dari layout rumah
tinggal. Oleh karena itu beliau juga befungsi sekaligus sebagai dewanya
segala hewan. Dalam badan beliau
bersthana di kulit yg disebut segara tan patepi (lautan tanpa batas) dgn
aksaranya "SANG", berwujud Amerta Sanjiwani, rembesannya
keluar dalam bentuk keringat.
Faedahnya adalah untuk membasmi segala
penderitaan, pada badan termasuk penyakit yang berat maupun penyakit yang
ringan. Demikian pula apabila mendapat penderitaan karena melakukan sumpah mati
(Cor), dapatlah diampuni. Penjelmaan beliau adalah berbentuk langit yang
cemerlang, menjadi damuh (embun pagi) demikianlah saktinya I Ratu Ngurah
Tangkeb Langit.
Komentar
Posting Komentar