PATUNG MAHAKETU

 


Prabu Mahaketu adalah raja kerajaan Astina, dengan permaisurinya Dyah Pradnyadari. Beliau memerintah dengan patih dan pandita kerajaan (purohita) Begawan Mahasidi dan Rsi Kesawa. Pada saat pemerintahan beliau keadaaan negara Astina, dalam keadaan makmur Sentosa. Prabu Mahaketu belum mempunyai keturunan, sehingga menyebabkan kesedihan dalam diri raja Astina tersebut. 

Dalam upaya memperoleh putra mahkota, maka dua pandita kerajaan yaitu Begawan Mahasidi dan Resi Kesawa, menyarankan agar melaksanakan upacara kehadapan Hyang Jinamurti. Prabu Mahaketu menyetujui saran kedua purohita tersebut dan melaksankan upacara Homa, Tapa, Brata, Yoga dan Semadi, memohon kehadapan Buda Wairocana, agar diberikan keturunan yang utama. Akhirnya permaisuri kerajaan Astina, Dewi Pradnyadari pun mengandung dan melahirkan seorang putra yang tampan, yang dinamakan Sang Sutasoma.

Setelah Sang Sutasoma beranjak dewasa, sebagai kebiasaan seorang raja, Sang Sutasoma disuruh mencari pasangan hidup sebagai syarat menjadi raja pengganti dan melanjutkan garis keturunan. Sutasoma tidak berkenan menerima saran dari ayahandanya untuk menikah dan menjadi raja di Astina. Pada malam hari, Sutasoma atas dorongan spritual besar dari dalamnya, menuju ke hutan untuk belajar tentang filosofi kehidupan, mendalami ajaran Budha. Sepeninggal kepergian Sutasoma, prabu Mahaketu bersama permaisuri sangat bersedih.

Komentar