PATUNG RAMA


Rama adalah tokoh utama sekaligus protagonis dari Kisah Ramayana. Rama dalam Hinduisme merupakan salah satu awatara Wisnu dalam menumpas angkara murka Rahwana atau Dasamuka, sebagai tokoh antagonis. Dalam pewayangan Jawa Rama mempunyai sebutan yang lain: Ragawa/Rama Regawa. Sri Rama adalah putra tunggal Prabu Dasarata raja negara Ayudya dengan Dewi Rago salah seorang permaisuri, dari tiga permaisurinya. Secara garis patrilineal Rama berkedudukan sebagai putra mahkota Ayudya. Saudara seayah lain ibu adalah

1. Laksmana/Leksmana Widagda dari permaisuri Dewi Sumitra.

2. Bharata

3. Satrugna dan

4. Dewi Kawakwa  dari permaisuri Dewi Kekayi.

Sejak masa remaja Rama dan Laksmana dididik untuk melindungi kaum teraniaya, memberantas kelaliman dan menumpas keangkara-murkaan, mamayyu ayyuning bumi (menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi).

Rama diserahkan kepada pendeta Wismamitra untuk melindungi para Brahmana, yang selalu mendapat gangguan raksasa-raksasa pengikut raja Alengka. Usaha itu berhasil, Rama dapat mengenyahkan gangguan para raksasa itu. Sri Rama sebagai awatara Wisnu bertugas menciptakan kesejahteraan dunia, meskipun dalam kehidupannya Rama selalu berhadapan dengan kemalangan. Rama dalam mengalami kemalangan demi kemalangan tersebut, namun sebagai insan beliau selalu dapat memusatkan pikiran pada kewajibannya. 


Tidak larut dalam seluruh kemalangan selama hidup. Kemalangan pertama yang dihadapinya adalah haknya untuk menjadi raja dirampas dan diusir ke tengah hutan selama 14 tahun. Dalam pengusiran dalam hutan, istrinya diculik oleh Rahwana yang sakti, seorang pemimpin kerajaan besar bernama Alengka. Setelah memenangkan peperangan besar dengan Rahwana, yang dibantuk pasukan kera Kiskinda, Rama kembali menjadi raja. Ketika Rama berkuasa, para pembesar kerajaan menyangsikan kesucian Sita. 


Rama sendiri menyaksikan istrinya membakar diri untuk membuktikan kesuciannya dan berdiam di hutan. Saat tragis terakhirnya adalah berperang dengan anak kembarnya Kusa dan Lawa, namun peristiwa tersebut justru menyatukan kembali keluarga yang berpisah tersebut. Keteladanan Rama tersebut dapat dijadikan contoh dalam mengarungi kehidupan fana yang kadang kala dipenuhi oleh kemalangan, namun manusia dapat fokus dalam menjalankan kewajiban sebagai insan yang utama.


Selama petualangannya Rama berjuang bersama adik tirinya bernama Laksmana. Dalam perjuangannya itu kedua ksatria tersebut mendapatkan peningkatan ilmu, baik rokhani maupun olah senjata. Keduanya banyak mendapat sasanti (doa baik) dan pujian dari para pertapa, ketika melindungi pertapaan dari gangguan raksasa. Dalam pewayangan Jawa, setelah beranjak dewasa Rama kemudian dibawa ke Mitila/Mantili untuk mengikuti sayembara dan mempergunakan panah.


pusaka Batara Wisnu, milik Prabu Janaka sebagai syarat mencari titisan Wisnu, sekaligus pemenangnya dikawinkankan dengan Dewi Sita/Dewi Sinta, putrinya. Rama setelah berhasil memenangkan sayembara tersebut kemudian dikawinkan dengan Dewi Sita.


Dewi Sita lalu diboyong ke Ayudya. Ditengah perjalanan Rama dapat memenuhi maksud Resi Jamodagni/Rama Bargawa untuk mendapatkan Nirwana. Setelah tiba saatnya, Sri Rama diserahi kekuasaan negara clan takhta kerajaanya dari ayahnya, Prabu Dasarata. Tetapi Dewi Kekayi menagih janji kepada Prabu Dasarata, agar putranya Bharata dinobatkan menjadi raja Ayudya. Pertikaian secara halus antara Prabu Dasarata dengan permaisurinya itu, Dewi Kekayi, mengakibatkan Prabu Dasarata jatuh sakit. 

Rama mengetahuinya dan kemudian meloloskan diri dari negara Ayudya demi kesejahteraan keluarga keraton. Rama pergi bersama Dewi Sita diiringi oleh Laksmana adiik tirinya yang setia Bharata akhirnya dinobatkan menjadi raja Ayudya, tetapi tidak bersedia sebelum ada persetujuan Sri Rama. Bharata kemudian pergi menyusul Sri Rama, karena Prabu Dasarata mangkat disebabkan oleh kesedihannya. 

Setelah berjurnpa dengan Rama, Bharata kemudian kembali ke Ayudya dan memegang pemerintahan kerajaan atas nama Sri Rama, ditandai dengan Sandal/Paduka Sri Rama yang diletakkan di singgasana, sebagai simbol kehadiran Rama sebagai pemimpin Ayudya. Rama, Sita dan Laksmana terus berkelana dan mengembara, sampai akhirnya berada di tengah hutan Dandaka dan memutuskan untuk bertempat tinggal di sana. Kecantikan Sita akhirnya didengar oleh Rahwana raja Alengka dan berencana memperistri Sita dan merampasnya dari Rama. 

Rencana Rahwana untuk menculik Sita adalah dengan pancingan umpan Kijang Kencana penjelmaan Kala Marica, Rama-Laksmana dapat dipisahkan dari Sita, dan Sita yang sendirian di gubuk akhirnya berhasil diculiknya. Dalam perjalanan ke Alengka, tangis Sita didengar oleh Jatayu, seekor burung rajawali besar. Sita direbutnya dan terjadilah pertempuran yang dahsyat. Tetapi Jatayu tak dapat memenangkan peperangan itu. Dewi Sita dibawa ke Alengka. Dalam pencarian Sita, Rama akhirnya tiba di Maliyawan. Di kerajaan Kiskenda, Prabu Sugriwa dapat diusir dari kerajaannya oleh Resi Subali. 

atas pengkhianatan Rahwana. Atas wisik Dewa, Sugriwa kemudian mengutus Anoman untuk mencari Rama di Maljyawan dan rnembawanya bersama dengan Laksmana. Pertemuan Rama dengan Sugriwa tersebut memutuskan:

1. Rama sanggup menolong mengembalikan hale milik Sugriwa yang dirampas Subali, yaitu Tara, isterinya dan Kiskenda, kerajaannya.

2. Sugriwa sanggup menolong mengembalikan hak milik Rama: Dewi Sita yang dirampas Rahwana.

 

Sri Rama akhimya dapat membunuh Subali dan mengembalikan Dewi Tara ke Sugriwa. Setelah itu, rencana merebut Sita dilaksanakan. Pertama-tama Sri Rama merasa perlu mengadakan penyelidikan dimana tempat Dewi Sita disembunyikan. Rama mengutus Anoman untuk melaksanakan tugas. 


Setelah tempat kedudukan Sita diketahui dengan pasti, Rama kemudian berangkat ke Alengka dengan membawa angkatan perang wanara dibawah pimpinan Sugriwa. Untuk menyeberangi laut yang memisahkan Alengka, balatentara wanara kemudian membuat jalan dengan membangun jembatan yang menghubungkan daratan India dengan Alengka yang terletak di tengah pulau.


Setelah dapat menyeberangi dan menginjak tanah daerah Alengka, Rama kemudian membuat pasanggrahan/markas besar diperbukitan batu dekat pantai, yang dinamakan Swalagiri/gunung batu. Jalan perdamaian kiranya tidak membawa hasil, karena Rahwana menolak untuk menyerahkan Sita kembali. Maka negeri Alengka kemudian digempur dengan seluruh kekuatarv angkatan perang wanara. 


Rahwana dengan seluruh balatentaranya dapat dibinasakan oleh Rama. Rama akhirnya bertemu kembali dengan Sita. Rama kemudian menobatkan Wibisana, adik Rahwana yang membelot ke Rama menjadi raja di Alengka. Karena ibu kota kerajaan Alengka hancur karena peperangan, pusat pemerintahan kerajaannya dipindahkan ke Singgela. Rama kemudian memboyong Dewi Sita kembaii ke Ayudya dengan upacara besar-besaran. 


Prabu Bharata setelah menerima kedatangan kakaknya lalu menyerahkan takhta/ singgasana kerajaan Ayudya kepada Rama. Rama kembali memegang tampuk pemerintahan negara sampai akhir hayatnya.


Komentar