I Ratu Nyoman Sakti
Pengadangan adalah gelar Sang Banaspatiraja (Sanghyang Banaspatiraja; Banaspati
Raja; atau dikenal juga dengan sosok barong ket) sebagai kanda keempat berwujud
ari-ari (plasenta), ketika telah diangkat menjadi patih di Pura Dalem,
sebagaimana disebutkan dalam lontar kanda pat sari.
Umumnya Beliau juga
disebutkan sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll
yang dipandang angker, sehingga orang dilarang menebang kayu atau naik pohon
pada waktu yang tidak sesuai dengan hari yang baik/buruk menurut kalender Bali.
Pada tahapan kehidupan manusia, Sang Banaspatiraja nantinya akan berubah
menjadi Sang Maha Kala, beliau juga akan menjemput dan mengadili manusia
setelah mati. Banaspatiraja merupakan Simbol atau wahana Ida Bhatara yang
berlandaskan pada ajaran Ciwa.
Pada Monumen Perjuangan Rakyat Bali,
I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan yang ditempatkan pada candi bentar sisi utara,
bersenjatakan cakra, dengan posisi tangan merestui. Cakra identik dengan
senjata ilahi yang juga menempati sisi utara dalam kosmologi Bali.

Komentar
Posting Komentar