Dikisahkan
pada zaman kaliyuga di kerajaan Hastina, memerintahlah raja Mahaketu dengan
permaisurinya Prajnyadhari. Mereka berdua sedang bersusah hati karena belum
mempunyai keturunan, namun mereka tidak hentinya berdoa kepada sang Budha agar
diberikan keturunan. Hingga akhirnya suatu saat sang Budha menampakkan dirinya
dan berkata bahwa Beliau akan Iahir sebagai putra dari Raja Mahaketu.
Beberapa lama kemudian Iahirlah putra dari sang raja yang diberi nama Sutasoma, dia adalah pangeran yang sangat tampan dan juga cerdas. Sesudah pangeran dewasa, raja dan seluruh punggawa kerajaan meminta agar pangeran bersedia menjadi raja, namun tanpa disangka pangeran menolak menjadi raja dan memilih untuk menjadi pertapa.
Tentu saja keinginan pangeran ini ditentang oleh raja dan ratu dan
juga oleh para punggawa kerajaan. Semuanya silih berganti menasehatinya, namun
pangeran tetap berkeras dengan keinginnanya. Keesokan
harinya, pangeran pergi meninggalkan istana untuk menjadi pertapa tanpa
diketahui oleh siapapun dan tentu saja seisi Istana menajdi panik mencarinya
dan raja dan ratu sangat berduka.
Dikisahkan perjalanan pangeran ke hutan menuju gunung semeru, diperjalanan dia bertemu dengan para pertapa, dan sekali lagi para pertapa ini juga mengingatkan pangeran agar kembali ke istana untuk menjadi raja yang akan memberikan kedamaian pada dunia.
Mengingat keadaan dunia
yang sedang
kacau akibat tingkah seorang raja yang bernama Purusada Kemudian diceritakan
juga asal-usul Purusada yang pada kehidupan sebelumnya bernama Suciloma yaitu
seorang raksasa yang sangat sakti, namun akhirnya bisa dikalahkan
oleh Agrakumara yang merupakan titisan Budha. Suciloma kemudian menjadi seorang
pertapa dan kemudian wafat.
Sejak saat itu Jayantaka selalu ingin memakan daging manusia,
dan dia menjadi penganut
Bhairawa dan menjadi raja dari para raksasa serta menciptakan kekacauan di
dunia. Oleh karena Jayantaka merupakan kelahiran dari Suciloma dan Sutasoma
adalah titisan Budha maka hanya Sutasoma yang mampu mengalahkannya.
Namun, Sutasoma tetap menolak untuk menjadi raja dan berperang, dia lebih memilih untuk menjadi pertapa. Kemudian Sutasoma melanjutkan perjalanannya, dimana dia bertemua raksasa berkepala gajah yang menyerangnya, namun oleh kesucian pikirannya akhirnya raksasa yang bernama gajawaktra itupun tunduk kepadanya dan bersedia menjadi biksu pengikut Sutasoma.
Ditengah perjalanan mereka kembali dihadang oleh seekor naga, namun akhirnya naga ini pun berhasil dikalahkan dan akhirnya menjadi pengikut Sutasoma juga. Di suatu tempat mereka bertemu dengan macan betina yang hendak memangsa anaknya karena susahnya mencari makanan di hutan itu. Oleh Sutasoma, dia merelakan dirinya untuk dimangsa oleh Macan betina tersebut asalkan anak macan tersebut dibebaskan.
Macan tersebut setuju dan akhirnya Sutasoma dimakan oleh Macan tersebut dan dia pun meninggal.
Setelah itu macan betina menjadi
menyesal setelah membunuh orang yang baik hati, yang berhati mulya dan penuh
cinta kasih. Oleh dewa Indra, Sutasoma dihidupkan kembali. Namun Sutasoma
manjadi sedih hidup kembali, karena tujuannya adalah memang bersatu kembali
dengan sang Budha. Namun Dewa Indra berkata bahwa pengorbanan Sutasoma adalah
bentuk cinta kasihnya kepada kehidupan, dan dunia membutuhkan orang sepertia
dia.
Kemudian diceritakan Sutasoma memberikan wejangan agama kepada para pengikutnya yaitu gajawaktra,
Indra kemudian memberikan sembahnya dan mengingatkan kembali bahwa tujuan kelahiran Budha kembali bukanlah untuk menjadi pertapa melainkan untuk menegakkan kebenaran dan memberikan kedamain di dunia yaitu dengan menaklukan Purusada. Indra juga menceritakan bahwa saat ini Purusada sedang terluka dan dia berkaul kepada Bhatara Kala, jika dia sembuh dia akan menghaturkan 100 orang raja kepada Bhatara KalaAkhirnya Sutasoma terbangun dari tapanya dan menyadari tugasnya di dunia ini dan dia memutuskan kembali ke kerajaannya.
Komentar
Posting Komentar